Yunus Wonda : Menyalahkan Sesama Pemimpin, Perbuatan Tak Beretika

Wakil Ketua II DPD Partai Demokrat Provinsi Papua, DR. Yunus Wonda, SH MH.

Keterangan gambar : Wakil Ketua I DPR Papua, DR. Yunus Wonda,  SH,  MH. (Foto : Tiara)

JAYAPURA, Potret.co – Wakil Ketua I DPR Papua,  DR.  Yunus Wonda,  SH MH menyebut pidato Bupati Lanny Jaya,  Befa Jigibalom dalam acara bakar batu yang digelar di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya pada Kamis 19 Mei 2022 dapat memicu perpecahan lantaran dalam pidato tersebut telah menyindir dan menyudutkan beberapa tokoh Papua termasuk Gubernur Papua,  Lukas Enembe.

Menurutnya,  pro kontra yang terjadi terkait penolakan pemekaran atau pembentukan  Daerah Otonom Baru atau DOB provinsi dan Undang – Undang Otsus Jilid II adalah hal yang biasa dan demokrasi yang sedang terjadi saat ini di Tanah Papua. 

Namun dirinya mengingatkan bahwa tidak perlu menyalahkan seseorang atau pun pemimpin, terlebih sampai menyebut nama orang tersebut.

“Menyalahkan sesama pemimpin itu perbuatan yang tidak beretika. Saya mau sampaikan kepada saudara Befa Jigibalom,  saudara harus tahu dan ingat, saudara menjadi pemimpin atau menjadi bupati,  itu datangnya dari mana?. Saudara harus jujur, karena sebelum jadi Bupati hidup anda ada di tangan bapak Lukas Enembe,’’ kata Yunus, Jumat (20/5/2022).

‘’Bapak Lukas Enembe yang telah mengorbitkan anda untuk menjadi Bupati hingga dua periode. Jjangan seperti kacang yang lupa kulit.  Untuk itu dalam etika pidato politik dimana pun, tidak boleh kita menyebut langsung nama orang tersebut. Seorang pemimpin harus mempunyai etika politik,” tegasnya.

Yunus Wonda mengingatkan bahwa dalam politik tidak bisa membuat semua orang menjadi musuh atau lawan, sebab jabatan atau kekuasaan ada masanya.

“Yang tidak ada masanya adalah pertemanan. Bapak Lukas Enembe sudah mengorbitkan sekian banyak kader hingga menjadi para bupati hari ini. Kalau memang ada timbal balik karena merasa sudah ikut membantu atau menolong beliau untuk menjadi gubernur,’’ jelasnya.

Sebagai sesama politisi,  Yunus Wonda mengajak semua para elit politik untuk selalu menjaga dan menghormati serta menghargai sesama pemimpin.

“Kita boleh punya ambisi, juga boleh punya keinginan untuk menjadi gubernur,  tapi ingat kita harus utamakan etika politik. Dan juga harus tahu diri, kita ini datangnya dari mana,  kita bisa muncul hari ini di publik datangnya dari mana,  kita bisa menjadi bupati datangnya dari mana. Sebab saya sendiri dan tahu persis seberapa besar pengorbanan dan dukungan bapak Lukas kepada kita semua,’’ ucapnya.

Menurutnya, Lukas Enembe adalah tokoh Papua yang penuh kharismatik dan itu harus diakui dengan jujur.

“Kita boleh tidak suka,  tapi ingat kita harus tetap menjaga etika politik.  Jangan sampai kita terpecah belah hanya karena dengan adanya DOB ini. DOB ini kalau waktu Tuhan,  dia akan jadi, tapi kalau bukan waktu Tuhan dia tidak akan jadi,’’ ujarnya.

‘’Kalau hari ini rakyat menyampaikan aspirasi dan rakyat menonak, ya itu haknya rakyat.  jika hari ini pihaknya hadir sebagai pemimpin itu karena ada rakyat,  kalau tidak ada rakyat tidak ada artinya kita ini dan kami tidak akan menjadi pemimpin semua. Jadi kita tidak bisa menyangkal kekurangan seseorang atau pun kelebihan seseorang tapi yang harus kita jaga adalah etika politik,” tegas Penasehat Fraksi Partai Demokrat DPR Papua itu.

Yunus Wonda mengimbau kepada semua pejabat agar dapat bersatu. Baik pegunungan maupun pesisir. 

“Mari kita sama-sama saling menjaga,  kita boleh berbeda pendapat tapi kita tetap harus saling menghargai satu sama lain. Mau itu yang terima maupun yang tidak terima, tugas kami hanya menyampaikan dan menyuarakan karena itu tugas kami sebagai di dewan perwakilan rakyat,’’ ucapnya. (Tia)