Workshop Pelita, Kakanwil Kemenag : Penguatan Moderasi Beragama bagi Generasi Muda Papua

Suasana workshop Pelita yang digelar Kementerian Agama

Keterangan gambar : Suasana workshop Pelita yang digelar Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua. (Foto : Natalia)

JAYAPURA, Potret.co –  Dalam rangka membudayakan moderasi beragama di Papua secara khusus bagi pemuda, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua menggelar workshop Pemuda Lintas Agama (Pelita)berbasis digital menuju penguatan  Moderasi Beragama di Kota Jayapura, Selasa (27/9/2022).

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua, Pendeta  Amsal Yowei  mengatakan, workshop tersebut merupakan salah satu gagasan untuk pembentukan pemuda lintas agama dari semua golongan agama diikuti para pemuda dari dua kelurahan di Kota Jayapura yakni Kelurahan Entrop dan Argapura.

‘’Peserta workshop berasal dari pemuda Kristen, Islam, Hindu dan Budha serta Katolik berkumpul dan terbangun melalui wadah Pelita atau Pemuda Lintas Agama berbasis digital,” ucapnya.

Amsal menyebut, melihat tantangan terbesar bagi generasi milenial yang ada, maka salah satu inovasi yang dilakukan pihaknya adalah melalui literasi digital yang berisi konten bernuansa agama dan berwawasan kebangsaan.

“Bagian-bagian ini yang kami coba lakukan untuk menggalang pemuda yang ada di Papua agar mereka selain memiliki nilai moderasi beragama untuk menjalankan agamanya dengan baik, tetapi juga berwawasan nasional, kebangsaan untuk tetap menjaga Papua menjadi tanah damai dalam bingkai NKRI,” ujar Amsal.

Amsal pun mengatakan, tindaklanjut dari kegiatan tersebut adalah mengangendakan pertemuan dengan kepala distrik dan kepala kelurahan, sehingga segera dibentuk Pelita.

‘’Dalam Pelita ini akan dihimpun seluruh pemuda dari semua golongan agama dan mereka  menggunakan talenta, potensi yang ada pada sejumlah tantangan di era milenial sehingga langkah-langkah strategis yang dilaksanakan Kementerian Agama melalui program prioritas penguatan moderasi beragama yang telah dilakukan sebelumnya di internal Kanwil Kementerian Agama,’’ kata Amsal.

Amsal menambahkan bahwa perlu dibentuk Pelita sebagai perpanjangan tangan Kementeria Agama untuk menanamkan jiwa moderasi beragama, bahkan juga wawasan kebangsaan.

Sementara itu, Jeni Karay selaku Konten Kreator di Papua mengatakan, moderasi beragama sangat penting melihat pengguna sosial media saat ini dikuasi oleh kaum milenial.

“Jadi untuk bisa mengkounter konten-konten radikalisme yang dapat memicu perpecahan diantara masyarakat adalah anak muda yang mempunyai peran terbesar,”ucapnya.

Sehingga, kata Jeni, ketika orang mencari tentang Papua di internet, maka yang keluar bukan lagi tentang separatisme, melainkan konten menarik dari anak muda Papua.

‘’Selalu gunakan validasi untuk berbagai hal positif, banyak berita bohong yang memicu emosi, tetapi kembali lagi kalau saying Papua, maka tidak boleh gampang terpicu, karena Papua dibangun dengan setiap perbedaan,’’ ujar Jeni. (Nat)