TPAKD Diminta Optimalkan Program untuk UMKM di Papua

Mochammad Akbar selaku Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Papua dan Papua Barat saat diwawancara 2

Keterangan gambar : Mochammad Akbar selaku Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Papua dan Papua Barat saat diwawancara. (Foto : Syahriah)

BIAK NUMFOR, Potret.co – Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) diminta berperan untuk mengoptimalkan program bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), terlebih di Papua.

Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua dan Papua Barat Mochammad Akbar mengatakan, tujuan di bentuknya TPAKD hingga ke tingkat kabupaten/kota untuk mempermudah akses keuangan bagi UMKM dalam rangka mencapai target indeks inklusi keuangan yaitu 90 persen pada tahun 2024.

Akbar mengungkapkan bahwa terdapat tiga program kerja TPAKD yang perlu dioptimalkan, pertama, Kredit/Pembiayaan melawan rentenir (K/PMR). Program tersebut yaitu berupa penyaluran kredit.

Program kedua adalah satu rekening satu pelajar yang merupakan rangkaian dari program Kejar atau  Kreasi Muda. Dan yang ketiga adalah program Business Matching.

Yubelius Usior pemilik usaha Dapur Usior

Di Provinsi Papua, TPAKD telah terbentuk di 24 kabupaten/kota, salah satunya di Kabupaten Biak Numfor yang akan segera dikukuhkan kepengurusannya.

Pada pekan lalu, OJK bersama sejumlah jurnalis Papua melakukan kunjungan ke tempat pelaku UMKM di kabupaten tersebut.

Diawali dengan mengunjungi Dapur Usior yang beralamat di Jalan Pramuka Kelurahan Mandala, Distrik Biak Kota, para jurnalis diajak melihat pembuatan ikan asar milik Yubelius Usior sebelum berlanjut ke sentra peternakan ayam petelur Kandorway Farm yang beralamat di Jalan Hendrik Kbarek, Desa Yadidas, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor.

Akbar mengungkapkan alasan memilih kedua tempat tersebut sejalan dengan program TPAKD yaitu K/PMR dan Business Matching.

‘’Yang relevan dari pelaku UMKM tersebut yaitu pertama K/PMR yang merupakan pembiayaan awal bagi mereka untuk mengakses keuangan di bank. Kedua adalah business matching, kita mempertemukan industri jasa keuangan dengan perbankan untuk dua program kerja TPAKD,’’ jelas Akbar. 

Sentra peternakan ayam petelur Kandorway Farm di Biak Numfor

Dia pun meminta pemerintah daerah dapat berkolaborasi dengan industri jasa keuangan melalui program business matching untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi pelaku UMKM yang sulit mengakses pembiayaan.

Yubelius Usior selaku pemilik Dapur Usior mengungkapkan, usahanya dimulai pada tahun 2018. Kemudian pada tahun 2019, dirinya mendapat dukungan pembiayaan dari perbankan berupa kredit.

Yubelius pun mengaku prospek usaha ikan asar untuk dijadikan oleh-oleh cukup bagus di Biak Numfor lantaran kabupaten tersebut menjadi salah satu destinasi wisata di Indonesia. Namun terkendala dengan pengelolaan.

Senada dengan Yubelius, pengelola Kandorway Farm, Nela Kbarek mengatakan telah mendapatkan pembiayaan dari salah satu bank pemerintah melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun 2020 dan 2021 dengan besaran pinjaman Rp50 juta.

Kandorway Farm telah berdiri sejak tahun 2019 telah menghasilkan 630 butir telur per hari dari jumlah populasi 830 ekor ayam ras petelur. (Ari)