Realisasi PPN Tumbuh Positif, DJP Sebut Dampak dari Kenaikan Tarif

Wajib Pajak mengantre untuk melakukan pembayaran pajak di KPP Pratama Jayapura

Keterangan gambar : Wajib Pajak mengantre untuk melakukan pembayaran pajak di KPP Pratama Jayapura. (Foto : Potret.co)

JAYAPURA, Potret.co –  Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan (DP3) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Papua, Papua Barat dan Maluku, I Made Agus Hari Sentana menyebut, kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 11 persen tidak berdampak signifikan terhadap inflasi Papua.

‘’Karena tidak berimbas terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat banyak, seperti kebutuhan pokok, jasa kesehatan, jasa pendidikan, dan semua barang atau jasa yang selama ini diberikan fasilitas pembebasan atau tidak dipungut,’’ kata Made saat merilis penerimaan pajak Provinsi Papua semester I tahun 2022, di Gedung Keuangan Negara Jayapura, Jumat (29/7/2022).

Made menambahkan, realisasi PPN pada tahun 2022 sejak April menunjukkan pertumbuhan positif. Secara akumulasi realisasi, realisasi PPN sampai Juni 2022 sebesar Rp614,28 miliar atau tumbuh 15,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

‘’Hal tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan tarif PPN menjadi 11 persen yang berlaku sejak 1 April 2022 semakin terasa dampaknya pada triwulan II tahun 2022,’’ ucapnya.

Sementara itu, secara kumulatif, penerimaan pajak sampai Juni 2022 mencapai Rp3,443 triliun atau 49,64 persen dari target APBN 2022 sebesar Rp6,937 triliun.

‘’Nilai tersebut tumbuh 24,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang terkontraksi sebesar 2,57 persen,’’ jelas Made.

Berdasarkan penerimaan per jenis pajak periode Januari sampai Juni 2022, mayoritas jenis pajak utama mengalami pertumbuhan.

Made merinci, pertumbuhan PPh pasal 21 sebesar 16,49 persen, PPN Dalam Negeri tumbuh 15,82 persen, PPh pasal 25/29 Badan tumbuh 87,75 persen, PPh Final tumbuh 103,84 persen dan PPh pasal 23 tumbuh 29,73 persen. (Ari)