OJK Ungkap Penyebab Rasio NPL Perbankan di Papua Naik

Deputi Kepala OJk Papua dan Papua Barat, Wesly Daniel Rudolf Tambunan saat memaparkan kinerja perbankan di Papua dalam kegiatan media gathering

Keterangan gambar : Deputi Kepala OJK Papua dan Papua Barat, Wesly Daniel Rudolf Tambunan saat memaparkan kinerja perbankan di Papua dalam kegiatan media gathering. (Foto : Syahriah)

BIAK NUMFOR, Potret.co – Kinerja perbankan di Papua dan Papua Barat menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan nasional.

Sampai posisi Juni 2022, total aset tercatat mengalami pertumbuhan 14,33 persen dari Rp76,44 triliun pada Juni 2021 menjadi Rp87,40 triliun, tumbuh lebih tinggi dibandingkan nasional yang hanya mencapai 9,77 persen.

Dana pihak ketiga atau DPK juga mengalami pertumbuhan 5,5 persen pada periode Juni 2022 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

‘’DPK naik dari Rp47,27 triliun menjadi Rp49,88 triliun pada periode Juni 2022,’’ jelas Wesly Daniel Rudolf Tambunan selaku Deputi Kepala OJK Papua dan Papua Barat  saat memaparkan kinerja perbankan dalam kegiatan media gathering di Biak Numfor, Papua, Jumat (19/8/2022).

Selain aset dan DPK, kata Wesly, penyaluran kredit juga mengalami pertumbuhan 4,95 persen dari Rp33,02 triliun pada Juni 2021 menjadi Rp34,66 triliun pada periode yang sama tahun 2022. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan nasional yang tercatat 3,76 persen.

Meski kinerja perbankan mengalami pertumbuhan yang lebih baik setahun terakhir, namun yang menjadi kekhawatiran adalah rasio non performing loan atau NPL (kredit bermasalah) perbankan di Papua yang mengalami kenaikan dibandingkan nasional.

Wesly mengatakan, rasio NPL perbankan di Papua tumbuh 0,52 persen pada periode Juni 2022 atau naik dari 2,43 persen pada Juni 2021 menjadi 2,95 persen, berada di atas nasional.  Secara nasional, lanjut dia, rasio NPL perbankan turun 0,17 persen.

Wesly pun mengungkapkan, peningkatan rasio NPL di Papua disebabkan adanya penurunan kualitas kredit debitur yang terdampak Covid19. (Ari)