OJK Sebut Masyarakat di Papua Antusias Transaksi dengan Fintech

ilustrasi fintech

Keterangan gambar : Ilustrasi fintech ( Foto : Shutterstock)

BIAK NUMFOR, Potret.co – Masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat telah memanfaatkan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

Saat ini selain dapat melakukan pinjaman pada perbankan dan perusahaan pembiayaan, masyarakat juga dapat memperoleh fasilitas pinjaman dari fintech peer to peer (P2P) lending.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada periode Juni 2022, dana dari lender (pemberi pinjaman/kreditur) mengalami penurunan 69,86 persen menjadi Rp1,87 miliar dari Rp6,20 miliar pada periode yang sama tahun 2021. Secara nasional tumbuh 38,44 persen.

Sementara, pinjaman ke borrower (penerima pinjaman/debitur) mengalami kenaikan meski masih dibawa nasional. Pada Juni 2022, OJK mencatat pinjaman ke borrower mencapai Rp47,56 miliar, naik 32,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp36,0 miliar. Secara nasional mengalami kenaikan 39,73 persen.

Deputi Kepala OJK Papua dan Papua Barat, Wesly Daniel Rudolf Tambunan mengatakan, secara umum, perkembangan financial technologi (fintech) di kedua provinsi tersebut mengalami penurunan. Hal itu tercermin dari jumlah dana yang diberikan dan jumlah rekening fintech.

‘’Jumlah rekening kreditur dan debitur fintech mengalami penurunan masing – masing 35,79 persen dan 5,15 persen, lebih rendah secara nasional,’’ kata Wesly saat memaparkan kinerja sektor jasa keuangan di Papua dan Papua Barat dalam kegiatan media gathering OJK di Biak Numfor, Papua, Jumat (19/8/2022).

Meski begitu, Wesly menyebut, masyarakat masih antusias bertransaksi dengan fintech, mencari alternative pinjaman dari perusahaan teknologi keuangan untuk pendanaan mereka.

P2P lending adalah layanan pinjam meminjam uang dalam mata uang rupiah secara langsung antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman berbasis teknologi informasi. (Ari)