Laju Inflasi Papua Tertahan Selama Pelaksanaan PON XX

Anggota Komisi II DPR Papua, H. Darwis Massi bersama Mustakim HR dan Siti Susanti dan tim satgas pangan saat mengecek harga bawang merah di salah satu pedagang yang ada di Pasar Sentral Hamadi Kota Jayapura, Selasa (7/4/2021). (Foto : Tiara/Pasificpos.com)

Keterangan gambar : Anggota Komisi II DPR Papua, H. Darwis Massi bersama Mustakim HR dan Siti Susanti dan tim satgas pangan saat mengecek harga komoditi di Pasar Sentral Hamadi Kota Jayapura, Selasa (7/4/2021). (Foto : Tiara/Pasificpos.com)

JAYAPURA, Potret.co – Pemulihan perekonomian Papua tidak terlepas dari perkembangan inflasi Papua. Inflasi tahunan Papua mencapai level terendahnya sepanjang tiga tahun terakhir pada bulan September 2021 yakni sebesar -0,40 persen secara year on year (yoy) .

Deflasi tahunan utamanya disebabkan kelompok makanan, minuman dan tembakau yang dipengaruhi oleh peningkatan pasokan harga cabai rawit, ikan ekor kuning dan tomat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua yang juga Wakil Ketua TPID Papua, Naek Tigor Sinaga mengatakan, langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Papua dan sinergi bersama PB PON XX mampu menahan inflasi sepanjang pelaksanaan PON XX.

“Hingga akhir Oktober 2021, Provinsi Papua diprakirakan mengalami inflasi tahunan, dengan rentang yang masih berada dalam target inflasi Nasional,” kata Naek dalam pemaparannya di kegiatan Bincang Bincang Media, Jumat (22/10/2021).

BBM edisi Oktober 2021

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua telah merilis perkembangan inflasi bulan September 2021, Jumat (1/10/2021).

Pada September 2021, terjadi deflasi sebesar 0,41 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,22. Dari 3 kota IHK di Papua, seluruhnya mengalami deflasi. Deflasi terdalam terjadi di Merauke sebesar 0,75 persen dengan IHK sebesar 103,92 dan terendah terjadi di Timika sebesar 0,30 persen dengan IHK sebesar 107,82.

“Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,32 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen, dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen,” tulis rilis BPS dikutip dari laman bpspapua.go.id.

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2021 sebesar -0,61 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2021 terhadap September 2020) sebesar -0,40 persen.

Bahan makanan pada September 2021 mengalami deflasi sebesar 1,78 persen. Tingkat inflasi bahan makanan tahun kalender (Januari–September) 2021 sebesar -3,20 persen dan tingkat inflasi bahan makanan tahun ke tahun (September 2021 terhadap September 2020) sebesar -0,66 persen. (Ari)