Kemensos Distribusi Bantuan untuk Warga Terdampak Cuaca Ekstrem di Lanny Jaya

Bantuan Kemensos RI untuk warga terdampak embun beku di Kuyawage Lanny Jaya

Keterangan gambar : Bantuan Kemensos RI untuk warga terdampak embun beku di Kuyawage Lanny Jaya. (Foto : Istimewa)

JAYAPURA, Potret.co – Kementerian Sosial RI telah mendistribusikan bantuan untuk warga yang terdampak cuaca ekstrem di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan.

Sebelumnya pada 1 Agustus lalu, Kemensos telah mendistribusikan bantuan ke Posko Penanganan Bencana di Tiom, ibukota Kabupaten Lanny Jaya,  sementara, tahap kedua telah didistrubusikan pada 8 Agustus lalu dan telah disalurkan kepada warga yang terdampak.

Adapun bantuan tahap kedua berupa 2.000 paket makanan siap saji, 2,8 ton beras, 500 lembar pakaian anak, 500 lembar pakaian pria dewasa dan wanita dewasa, serta 1.000 lembar selimut.

‘’Sementara, bantuan tahap ketiga telah tiba di Posko berupa 2,5 ton siap didistribusikan ke Distrik Kuyawage,’’ kata Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini dalam siaran pers, Kamis (11/8/2022).

Cuaca ekstrem yang dialami masyarakat di Distrik Kuyagawe ini menyebabkan gagal panen yang mengakibatkan ketersediaan pangan menipis, bahkan telah menimbulkan kelaparan. Menteri Sosial Tri Rismaharini mengerahkan jajarannya untuk mengirimkan bantuan.

Proses distribusi bantuan dikawal ketat oleh Kapolres Lanny Jaya dan Sekretaris Daerah Kabupaten Lanny Jaya guna memastikan bantuan sampai tanpa kendala ke masyarakat di Distrik Kuyawage.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lanny Jaya, Tendien Wenda memberi apresiasi kepada Kementerian Sosial yang cepat tanggap terhadap situasi di Lanny Jaya.

“Sebagai perwakilan Pemda dan masyarakat, kami berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Mensos yang tanggap terhadap situasi yang terjadi di Lanny Jaya dan juga Distrik Kuyawage. Berkat bantuan ini, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pangan,” ucap Tenden.

Sekda pun menjelaskan bahwa pendistribusian bantuan kepada warga terdampak embun beku dilakukan dengan pengawalan ketat lantaran akses jalan cukup membahayakan.

“Akses jalan tidak seperti kampung, tetapi lepas kampung, hutan belantara, pepohonan, tebing dan jurang. Medannya cukup membahayakan, sehingga kami harus mengamankan tamu (Kemensos) serta bantuan itu, jangan sampai terjadi kecelakaan, sehingga barangnya berhamburan dan tidak sampai,” kata Tenden.

Menurutnya, bantuan dikawal hingga batas jalan (titik temu) yang didistribusikan melalui jalan darat dan tidak sampai ke Kuyawage lantaran setelah titik temu hanya berupa jalan setapak yang tidak dapat dilalui kendaraan.

‘’Satu atau dua hari menjelang bantuan tiba di titik temu, warga Kampung Kuyawage dikabari untuk mengambil bantuan. Warga mengambil langsung bantuan di titik temu dan membawa ke kampungnya dengan cara dipikul, karena jalan dari titik temu ke Distrik Kuyawage berupa jalan setapak, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki,’’ jelasnya. (Red)