Keluarga Daud Morrouw Ohee Tuntut Ganti Rugi Tanah

Hak ulayat

Hak Ulayat Seluas 8 Hektare

SENTANI, Potret.co – Stadion Lukas Enembe kembali dipalang pemilik hak ulayat dari keluarga Daud Morrouw Ohee dan mengancam akan mengambil alih serta menduduki jika dalam waktu dua minggu belum menyelesaikan tuntutan ganti rugi atas tanah hak ulayat seluas 8 hektare di lokasi Stadion Lukas Enembe.

Aksi pemalangan ini lantaran tanah seluas 8 hektare yang dipakai membangun sarana Aquatik dan lapangan pemanasan di lokasi Stadion Lukas Enembe yang belum dilakukan pembayaran ganti rugi hak ulayat.

Puluhan warga tiba di depan Stadion Lukas Enembe, Rabu (14/7/2021) sekitar pukul 10.30 WIT, dengan membawa sejumlah spanduk yang bertuliskan “Tanah Adat Milik Daud Morrouw Ohee Seluas 8 Hektare, Putusan Pengadilan Nomor: 26/PDT/1993/PT. Irja dan Nomor: 48/PDT/G/1992/PN. JPR.

Selain memasang spanduk tersebut, massa juga memasang spanduk berukuran besar yang bertuliskan pernyataan sikap dari keluarga Daud Morrouw Ohee terkait tanah ulayat seluas 8 hektare di lokasi Stadion Lukas Enembe yang berisikan lima poin.

Perwakilan Keluarga Besar Daud Morrouw Ohee, Yulius Irianto Ohee, mengaku pihaknya melakukan aksi demo damai menuntut Pemerintah Provinsi Papua untuk segera membayar tanah ulayat seluas 8 hektare yang digunakan untuk membangun sarana Aquatik dan lapangan pemanasan jelang PON XX Tahun 2021 di Papua yang ada di lokasi Stadion Lukas Enembe.

“Kalau sempat lihat beberapa tahun lalu, kami ada berapa kali naikkan baliho dan spanduk yang sama itu untuk menyampaikan kepada pemerintah tentang hak kami yang belum diselesaikan. Karena kami lihat hari ini iven PON sudah mau mulai, tapi hak kami tak kunjung diselesaikan. Maka aksi ini kami lakukan untuk menyampaikan kembali kepada pemerintah agar tolong selesaikan hak dari keluarga kami,” kata Yulius Ohee yang juga Koordinator Aksi.

Dirinya menegaskan, bahwa keluarga Daud Morrouw Ohee sangat mendukung pelaksanaan PON XX Tahun 2021 di Papua.

“Pada intinya, keluarga kami mendukung pelaksanaan PON XX Tahun 2021 Papua. Namun disini juga kami ingin menyampaikan kepada pemerintah agar jangan abaikan hak keluarga kami dan segera selesaikan,” tegasnya.

“Karena keluarga kami ini menyampaikan aspirasi ini bukan situasional atau ada kepentingan lain. Mungkin karena melihat hal ini anggaran banyak, sehingga kita bikin aksi agar bisa dapat, jadi itu bukan tujuannya ya,” sambungnya.

Dia mengungkapkan, pihak keluarga mereka sudah berperkara sejak tahun 1992 dan 1993, keputusan hukumnya bisa dilihat.

“Sejak tahun 1992 dan 1993 itu, kurang lebih 26 kali sidang. Sehingga kami harap pemerintah jangan tutup mata dan kami mohon difasilitasi, untuk kita duduk bersama bagaimana hak kami ini bisa diselesaikan. Itu saja yang menjadi dasar dari keluarga kami melakukan aksi hari ini. Karena kami yakin kalau PON selesai, maka hak kami tidak akan pernah diselesaikan,” ujarnya.

Menurutnya, terkait persoalan ini pihak keluarga mereka telah membantu dan mendampingi pemerintah dari awal pelaksanaan pembangunan untuk seluruh pengerjaan, baik itu dari awal pembangunan pagar di lokasi Stadion Lukas Enembe, tetapi pemerintah tidak pernah menyelesaikan hak mereka hingga saat ini.

Bahkan pihak Pemprov Papua berjanji untuk memfasilitasi dan secepatnya menyelesaikan hak ulayat mereka.

“Hari ini kita lihat waktu sudah sangat dekat, dan aksi ini bukan menghalangi pelaksanaan PON. Tapi, aksi ini hanya untuk menyampaikan dan juga mengingatkan pemerintah agar tolong selesaikan hak kami. Karena jelas kami punya dasar hukum yakni, dua putusan dan kenapa tidak diselesaikan oleh pemerintah. Kalau ada hal-hal lain, silahkan fasilitasi untuk kita selesaikan bersama,” jelasnya.

Yulius Ohee menyampaikan, jika permintaan mereka tidak ditanggapi oleh pemerintah Provinsi Papua, maka mereka akan melakukan aksi pemalangan dan mengambil alih serta menduduki tanah yang sudah dibangun venue aquatik dan lapangan pemanasan jelang PON XX 2021 Papua.

“Kami beri waktu dua pekan kedepan, kemudian keluarga kami pasti duduki. Kita akan pasang tenda dan kita suruh anak-anak dan istri kita masak atau makan di atas tanah ini. Kalau perlu kita cangkul ulang untuk kita pergi berkebun disini. Karena di lokasi stadion ini merupakan areal berkebun kita,” kata Yulius. (Irf)