Harga BBM di Tolikara Tembus Rp100 Ribu Per Liter, Masyarakat Minta Perhatian Pemerintah Pusat

Ketua Persatuan Abag Ojek Kabupaten Tolikara Cristian Kogoya saat diwawancarai

Keterangan gambar : Ketua Persatuan Abang Ojek Kabupaten Tolikara, Cristian Kogoya saat diwawancara. (Foto : Istimewa)

TOLIKARA, Potret.co – Sama seperti daerah pedalaman lain di Papua, cerita klasik ini tak pernah habis dibahas dengan melonjaknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak Desember 2021 hingga bulan Januari 2022.

Harga premium (bensin) sekarang di kota Karubaga pusat ibukota Kabupaten Tolikara sekitar Rp50 ribu perliter sementara harga solar sekitar Rp40 ribu perliter. Apalagi di Distrik pelosok seluruh Tolikara harga BBM jenis premium dan solar melonjak lebih tinggi hingga Rp100 ribu per liter.

Persatuan Abang Ojek Tolikara Papua minta kepada Pemerintah Pusat terutama Presiden Joko Widodo agar menurunkan harga BBM yang melonjak mencapai Rp100 ribu per liter.

Harga mengalami lonjakan lantaran pasokan BBM bersubsidi pemerintah pusat yang biasa didistribusikan dari Timika terhenti, sementara pasokan BBM dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya berkurang.

Ketua Persatuan Abang Ojek Kabupaten Tolikara Papua, Cristian kogoya mengatakan banyak abang ojek enggan mengisi bensin di kendaraan mereka secara penuh karena berharap harga akan turun.

Diakuinya, imbas dari mahalnya harga BBM, pendapatan para abang ojekpun setiap hari menurun drastis lantaran sepinya penumpang akibat tarif angkutan juga mengalami kenaikan.

Christian mengaku, saat menjelang Natal 2021, masyarakat dari kampung yang harus membeli kebutuhan Natal di Kota Karubaga harus menyewa ojek dengan tarif lebih mahal dari biasanya.

Distrik Goyage misalnya salah satu Distrik terdekat berjarak lebih dari 15 kilometer dari kota Karubaga dengan tarif ojek sebelumnya Rp200 ribu naik menjadi Rp400 ribu.

Christian mengatakan harga minyak menjadi beban bagi komunitas abang Ojek yang berpenghasilan rendah terlebih untuk memenuhi kebutuhan menjadi lebih sulit.

“Mahalnya harga BBM ini membuat masyarakat dari kampung sulit ke kota untuk menjual hasil pertanian dan membeli kebutuhan rumah tangga,” kata Christian, dilansir dari Pasificpos.com, Senin (3/1/2022).

Dia berharap, Presiden Joko widodo supaya menurunkan melonjaknya harga BBM lantaran seluruh harga komoditi terutama bahan pokok di kios, maupun toko ikut melonjak.

Galih, salah satu warga Karubaga berprofesi sebagai driver ojek pangkalan lebih dari tiga tahun di Tolikara mangaku prihatin dengan kondisi tersebut.

Menurut Galih, sebelumnya harga BBM Rp25 ribu per liter di Karubaga, tapi sejak Desember mencapai Rp50 ribu bahkan sampai Rp100 ribu di daerah pelosok.

“Kami tidak bisa bekerja seperti biasa, karena harga BBM melonjak, tarif pun kita naikkan, jadi bagaimana kami mau antar masyarakat apalagi ke medan yang sulit,” kata Galih. (Red)