Gugatan Terhadap Telkom Ditolak, Peradi Papua Nyatakan Banding

Suasana persidangan di PN Klas IA Jayapura. Foto : Istimewa

JAYAPURA, Potret.co  –  Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Papua menyatakan banding setelah gugatan yang diajukan terhadap PT Telkom Indonesia ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas IA Jayapura.

Persidangan yang diketuai Eddy Soeprayitno S Putra, SH, MH, didampingi  dua hakim anggota yakni Mathius, SH, MH dan Linn Carol Hamadi, SH, digelar Kamis (23/9/2021) sore dengan materi mendengarkan keputusan hakim.

Ketua Peradi Papua yang juga selaku Ketua Tim Perwakilan Kelompok Pengguna E-Court Gugatan Class Action Dr. Anthon Raharusun, S.H.M.H menjelaskan bahwa dalam putusan itu  Hakim menyatakan bahwa gugatan ini dinyatakan tidak sah atau ditolak.

Menurutnya, di dalam Perma No.1 tahun 2002 tidak mengatur tentang upaya hukum yang dilakukan dalam hal gugatan class action. Maka tentunya yang berlaku adalah hukum acara perdata. 

“Sehingga kami langsung menyatakan banding terhadap putusan itu. Hal ini dikarenakan putusan tersebut tidak mencerminkan rasa keadilan bagi masyarakat,” kata Anton. 

“Kami ini kelompok pengacara adalah bagian dari kelompok masyarakat yang dirugikan dan kami punya bukti yang sangat jelas sekali.  Kami punya bukti dari BMKG yang jelas mengatakan bahwa tanggal 30 April – 10 Juni 2021 tidak ada gempa yang signifikan yang terjadi di Sarmi – Jayapura. Sarmi – Biak dan juga sebaliknya,” kata Anton.

Hal ini dapat diartikan bahwa PT Telkom telah melakukan pembohongan publik terhadap masyarakat Papua. Oleh karena it,  putusan ini tentu saja mencederai rasa keadilan bagi masyarakat pengguna internet di Papua,” sambungnya.

Anton mengatakan, peristiwa putusnya jaringan internet bukan terjadi satu atau dua kali saja. Namun terjadi sejak 2015, 2017, 2019 dan 2021. 

“Apakah kita membiarkan pihak – pihak yang memberikan pelayanan publik  ini merugikan masyarakat secara terus menerus,”tanyanya.

Dia mengatakan bahwa sikap dari keputusan ini jelas, Tim Pengacara akan melakukan upaya hukum atas putusan ini. Mengoreksi kembali tentang pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan.

“Kita lihat saja pertimbangan itu tidak rasional. Pertimbangan – pertimbangan yang sangat sumir atau singkat. Sehingga kami akan melacak terus putusan ini, dan kami akan upaya terus sampai mendapatkan keadilan,”janjinya.

Sebab menurut  Tim pengacara, kata Anton, arah pertimbangan majelis hakim sangat tidak jelas. Dimana  dalam pertimbangannya, hakim menyatakan Tim pengacara selaku penggugat tidak menyertakan bukti – bukti yang mendukung tentang gugatan tersebut.

 “Padahal buktii  – bukti awal kita sudah ajukan dan salah satunya adalah Surat dari BMKG Wilayah V Papua. Itu sudah jelas,” ujarnya.

Selain itu juga dasar dari pertimbangan hakim dianggap terlalu sumir dan dangkal.

Diberitakan sebelumnya, Peradi Papua menyiapkan gugatan kepada PT Telkom (Persero) Tbk terkait jaringan internet yang sering bermasalah di Jayapura dan sekitarnya.

“Meski jaringan internet sudah baik nantinya, Peradi tetap melakukan gugatan class action (gugatan perwakilan kelompok) ke pengadilan. Kami beri waktu dua minggu, gugatan sudah kami siapkan,” ucap Anton Raharusun kala itu.

Sebelum mengajukan gugatan, terlebih dahulu Peradi Papua melayangkan surat somasi atau teguran kepada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk terkait layanan internet yang sering bermasalah di Jayapura.

Surat somasi tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Peradi Papua, Anton Raharusun kepada General Manager PT Telkom Witel Papua, Sugeng Widodo yang selanjutnya akan diteruskan ke Direksi PT Telkom Indonesia di Jakarta.

“Saya selaku Ketua Peradi mewakili kepentingan Advokat sangat kesulitan mengakses tugas – tugas dalam menangani perkara yang menggunakan sistem network (jaringan) dan yang menggunakan aplikasi untuk sistem penyumpahan yang saat ini disediakan oleh Pengadilan Tinggi sejak jaringan internet putus,” ucap Anton usai menyerahkan surat somasi di Kantor Telkom Papua, Selasa (25/5/2021).

Menurutnya, surat somasi tersebut juga mewakili kepentingan publik sebagai bentuk keprihatinan.

“Somasi sebagai langkah awal yang bisa kita lakukan agar ada perbaikan jaringan secara permanen untuk memback up jaringan karena sering bermasalah,” ujarnya. (Ari/Red)