Air dan Sanitasi Jadi Klaster Baru pada Gerakan Terpadu Tanggap Darurat Bencana

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Papua, Paminto Widodo

Keterangan gambar : Staf Air dan Sanitasi Unicef Indonesia Kantor Perwakilan Jayapura, Reza Hendrawan. (Foto : Natalia)

JAYAPURA, Potret.co – Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Papua, Paminto Widodo mengatakan, penanganan bencana pada tanggap darurat tahun 2016 masih bersifat sektoral.

‘’Artinya masing- masing sektor bekerja sendiri, untuk itu BPBD Papua memandang perlu adanya sarana untuk komunikasi koordinasi dalam penanganan gerakan terpadu penanganan tanggap darurat bencana, yang terdiri dari sembilan klaster,’’ kata Paminto usai rapat koordinasi bersama Yakenpa, Rabu (31/8/2022).

Menurutnya, dalam lima tahun berjalan, banyak perubahan terjadi, tidak hanya pada sumber daya manusia, namun juga pada bidang teknologi.

“Setelah berjalan selama lima tahun, ada banyak perubahan salah satunya peningkatan sumber daya, diantaranya sumber daya manusia, peralatan, maupun teknologi yang ada di Papua, maka dipandang perlu untuk dilakukan revitalisasi,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa salah satu klaster yang perlu dibuat adalah air dan sanitasi lantaran dari beberapa pengalaman pengamanan bencana, klaster tersebut merupakan bagian yang sangat penting yang harus ada dalam penanganan bencana.

Sementara itu, Staf Air dan Sanitasi Unicef Indonesia Kantor Perwakilan Jayapura, Reza Hendrawan menyampaikan bahwa sistem koordinasi, ketika kondisi darurat bencana terjadi diperlukan intervensi untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi para korban yang terkena bencana.

“Yang paling mendasar beberapa diantaranya adalah akses air dan sanitasi ketika terjadi bencana. Kita harus memastikan para korban tetap dapat mengakses air bersih, mengakses sanitasi toilet yang terpisah dan juga mereka harus mempraktekan perilaku hidup sehat sebelum terjadi bencana kedua,’’ jelasnya.

‘’Yakni pada saat sarana air tidak ada kemudian toilet tidak ada sehingga para pengungsi harus buang air sembarangan dan hal tersebut mengakibatkan timbulnya potensi penyakit baru seperti  diare atau bisa berkembang menjadi kolera dan tentunya akan sangat membahayakan bagi jiwa,’’ sambung Reza.

Dia menambahkan, Unicef fokus terhadap kesehatan Ibu dan anak, juga berfokus pada penanganan air bersih dan sanitasi, pendidikan kesehatan dan pendorongan tentang logistic, sehingga Unicef Papua.

Untuk diketahui, Rapat koordinasi digelar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua dan Yayasan Noken Papua (Yakenpa) didukung oleh Unicef terkait Revitalisasi surat keputusan Gubernur Papua nomor 1884/423/ Tahun 2016 tentang Klaster Gerakan Terpadu Penanganan Tanggap Darurat Bencana Provinsi Papua serta penambahan klaster air dan sanitasi. (Nat)